calendar


Sabtu, 14 April 2012

EKY PRASETYO WIDODO


Dibalik Harta
Pak Mail sudah rapi, berpeci hitam, berbaju koko putih dan memakai sarung kotak-kotak biru. Ia berdiri didepan pagar rumahnya, menyambut para tamu undangan. Di ruang keluarga, Bu Mail sibuk mempersiapkan hidangan ala prasmanan dengan menu istimewa. Di atas meja panjang yang terbalut kain hijau, terdapat gule dan sate kambing, sate ayam, ayam bakar, ayam goreng, opor ayam, sop buntut, acar, sambal hati. Dan juga ada berbagai macam buah.

Pak Mail melirik arlojinya. Sudah jam 19:30. Ia menduga, tamu undangan akan hadir tepat pada jam 20:00, sesuai waktu yang tertulis di dalam surat undangan. Menit-menit berlalu, dan ketika arlojinya sudah menunjukkan jam 19:55, belum ada satu pun tamu yang hadir. Bu Mail berlari keluar dari ruang keluarga, setelah selesai mempersiapkan hidangan istimewa itu.

"Kok belum ada yang datang, Pak?" tanyanya dengan wajah tegang.
"Mungkin orang-orang di lingkungan perumahan ini sangat disiplin, Bu. Mereka mungkin akan datang tepat pukul delapan. Lima menit lagi," jawab Pak Mail dengan wajah yang juga tiba-tiba nampak tegang.

Bu Mail berkata: "Uh! Menghadiri undangan pesta kok dipas jamnya. Dasar sok disiplin," gerutunya dengan kesal.
Pak Mail juga mulai dilanda kesal, karena belum juga ada seorang pun tamu undangan yang hadir di rumahnya. Ia mulai bertanya-tanya, kenapa tetangga-tetangga dekatnya juga belum hadir? Apakah mereka sedang tidak ada di rumah? Ia memang belum mengenal semua tetangganya, karena baru saja pindahan sepekan lalu. Rumah barunya yang megah berlantai dua itu terletak di tengah-tengah lahan kosong di tengah perumahan itu.
"Mungkinkah semua tetangga dan teman-teman dekatmu tidak ada yang bersedia hadir, Pak?" tanya Bu Mail dengan wajah kesal.
"Sabarlah, Bu. Mungkin sudah menjadi kebiasaan di kampung ini, jika menghadiri undangan selalu terlambat." Pak Mail mencoba menghibur diri.
"Tapi ini sudah lewat lima belas menit, Pak."
Kembali Pak Mail melirik arlojinya. Memang sudah lewat lima belas menit dari jam delapan. Wajah Bu Mail dan Pak Mail semakin tegang, karena menit-menit terus berlalu, tapi belum juga ada satu pun tamu undangan yang hadir.

Tiga orang pembantu dan dua sopirnya nampak tersenyum-senyum di depan pintu ruang keluarga. Mereka pasti berharap agar syukuran itu gagal, atau hanya dihadiri sebagian kecil tamu undangan. Sebab, jika syukuran itu gagal atau hanya dihadiri sebagian kecil tamu undangan, maka akan ada banyak sisa hidangan yang bisa dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga di rumah.

Kini sudah jam 21 kurang 10 menit. Dan tetap belum ada seorang pun tamu undangan yang hadir. Dengan kesal, Pak Mail kemudian mencoba menelepon teman-teman dekat yang telah diundangnya. Tapi ternyata mereka semua mematikan hp-nya. Sedangkan telepon di rumah mereka juga tidak bisa dihubungi.

"Apa perlu kita menyuruh sopir-sopir itu untuk mengingatkan tetangga-tetangga dekat agar segera hadir, Pak?" Bu Mail bingung.
"Ah, tak usah repot-repot, Bu."
"Tapi bagaimana kalau syukuran malam ini gagal, Pak?"
"Kalau tidak ada yang bersedia datang, kita justru tidak repot-repot, Bu."
"Kamu ini bagaimana sih, Pak?"
"Ah, sudahlah, Bu. Yang penting, nadzar kita mengadakan syukuran sudah kita lakukan. Dan kalau ternyata tidak ada yang datang, bukan urusan kita. Hidangan yang sudah kita sajikan, bisa dibawa pulang oleh sopir-sopir itu."

Bu Mail kemudian bungkam. Tapi hatinya risau. Ia menduga, semua tetangga dan teman-teman dekat sudah tahu Pak Mail adalah pejabat yang korup. Rumah megah itu juga hasil dari korupsi.

"Kalau sampai pukul sembilan nanti belum ada tamu yang hadir, kita tutup saja pintu pagar ini, dan semua lampu dipadamkan, Bu. Aku sudah capek, ingin segera tidur. Besok aku punya banyak acara penting. Ada rapat di hotel." Pak Mail nampak mulai putus asa.

Bu Mail kemudian bergegas masuk ke kamar tidurnya. Rasa kesal bercampur sedih tidak bisa dibendungnya. Ia terpekur sambil bercermin di meja rias. Mereka tidak bersedia hadir pasti karena tidak sudi menikmati hidangan yang berasal dari uang hasil korupsi.

Kini, di mana-mana memang sedang ada gerakan mengutuk para koruptor. Kini, semua pejabat yang hidup bermewah-mewahan dan punya rumah megah telah menjadi pergunjingan masyarakat di sekitarnya. Dan sejak muncul gerakan mengutuk para koruptor, Pak Mail nampak risau. Lalu, Bu Mail menyarankan untuk mengadakan acara syukuran dengan mengundang semua tetangga dan teman-teman dekat. Dalam syukuran itu, selain menikmati hidangan istimewa, semua tamu diminta untuk membaca doa bersama yang akan dipimpin oleh seorang ulama.

"Kalau rumah yang kita bangun sudah kita tempati, kita memang harus mengadakan syukuran, Bu," kata Pak Mail.
Lalu Bu Mail bilang bahwa kata Pak Mail itu sebagai sebuah nadzar yang harus dilaksanakan. Dan kini, nadzar itu sudah dilaksanakan, tapi ternyata terancam gagal total.

Pak Mail tiba-tiba menyusul Bu Mail ke kamar. "Pintu pagar sudah ditutup, Bu. Ayo tidur saja. Biarkan saja sopir-sopir dan pembantu-pembantu itu menikmati hidangan yang ada."

Bu Mail menangis. "Rupanya semua orang sudah tahu kalau kamu korupsi, Pak."
" Yang penting, tidak akan ada proses hukum yang bisa mengadili para koruptor seperti aku. Kalau kita dikucilkan di dalam negeri, masih ada tempat untuk hidup nyaman di luar negeri. Aku bisa mengikuti para seniorku yang kini hidup nyaman di negara-negara lain." 

Kesokan harinya Pak Mail dan Bu Mail sibuk menerima telepon dari teman-teman dekat yang tidak bisa menghadiri undangan syukuran. Kebanyakan mereka tidak bisa hadir karena ada musibah.

"Maaf ya, Pak Mail. Saya tidak bisa hadir, karena mendadak ada kerabat dekat yang meninggal dunia."
"Maaf, ya Bu Mail. Saya dan suami tidak bisa hadir, karena anak kami tiba-tiba sakit dan harus dibawa ke rumah sakit."
"Aduh, saya minta maaf karena tidak bisa hadir. Maklumlah, kami sedang berduka atas wafatnya anjing kesayangan kami."
"Sungguh, kami sedianya sudah bersiap-siap untuk hadir. Tapi mendadak ban mobil kami meledak, sedangkan ban serepnya baru saja dipinjam tetangga dekat."
Pak Mail dan Bu Mail sangat kesal sehabis menerima telepon. Sebab, semua teman dekatnya meminta maaf karena tidak hadir gara-gara mengalami musibah.
Seolah-olah mereka mengatakan bahwa musibah yang dialaminya disebabkan oleh undangan syukuran itu. Mereka seolah-olah ingin mengatakan bahwa jika mereka hadir pasti akan tertimpa musibah yang lebih besar.

Kini, Pak Mail dan Bu Mail semakin yakin, betapa semua teman dan tetangga sudah memandangnya sebagai manusia yang menjijikkan. Mereka tidak bersedia menghadiri undangan syukuran pasti karena jijik.

"Gagalnya syukuran yang kita laksanakan, justru membuatku semakin semangat mencari banyak uang untuk bekal hidup di luar negeri, Bu. Rasanya kita tidak akan bisa nyaman lagi tinggal di dalam negeri. Masa tugasku tinggal satu tahun. Waktu satu tahun akan kugunakan untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya," tutur Pak Mail dengan menerawang jauh. Terbayang para seniornya yang kini sedang main golf dan main catur di Singapura.
Perkumpulan yang dibuat untuk menghukum para koruptor semakin marak di mana-mana. Pak Mail dan Bu Mail semakin risau. Dan di pagi itu, ketika sedang menikmati kopi dan roti di beranda belakang, tiba-tiba pembantu-pembantu dan sopir-sopirnya mendekat dan berpamitan. Mereka mengaku takut, karena rumah megah berlantai dua itu terasa angker. Mereka juga mengaku sering bermimpi buruk dan mengerikan. Dalam mimpi mereka seolah-olah melihat rumah megah berlantai dua itu sedang terbakar, dan mereka terperangkap di dalam kobaran api.

Dan sejak kehilangan semua pembantu dan sopirnya, Pak Mail dan Bu Mail merasa sedih, tegang dan takut menghuni rumah barunya yang megah berlantai dua itu. Seolah-olah rumahnya itu bagaikan penjara yang mengurungnya. Kini, semua keluarganya juga semakin menjauh.

"Sebaiknya kita menyusul anak-anak, Pak." Bu Mail tak tahan lagi tinggal di rumah megah itu. Terbayang selalu dua anaknya yang kini sedang kuliah di Singapura.
"Ya, Bu. Kita memang harus segera menyusul mereka, untuk mencari tempat tinggal di sana. Mereka tidak usah pulang setelah selesai kuliah. Biarlah mereka tetap di sana."
"Rumah ini harus segera dijual, Pak." 

Pak Mail setuju, tapi menjual rumah megah sekarang tidak mudah. Ia teringat sejumlah seniornya yang kesulitan menjual rumah megah, lalu terpaksa ditinggalkan begitu saja.

"Sebaiknya kita memasang iklan di koran-koran, juga pengumuman di pintu pagar bahwa rumah ini dijual, Pak," usul Bu Mail.
Tanpa bicara lagi, Pak Mail segera memasang iklan di koran-koran dan papan pengumuman di pintu pagar. Dan hari-hari selanjutnya, Bu Mail terpaksa sibuk di dapur, menyapu lantai, mencuci pakaian, belanja ke pasar, karena tidak bisa lagi mencari pembantu. Pak Mail juga terpaksa pergi dan pulang kantor dengan menyetir mobilnya sendiri, karena tidak bisa mencari sopir lagi.

"Ada surat undangan pesta syukuran dari Pak Iman," ujar Bu Mail sambil menyerahkan surat undangan tanpa amplop selebar kartu pos itu, ketika Pak Mail baru pulang kantor, sore itu.
"Pak Samad mengadakan pesta syukuran? Memangnya barusan memperoleh rejeki dari mana tukang becak itu?"
Pak Mail nampak heran. Ia tahu, Pak Iman sehari-hari menjadi tukang becak. Rumahnya di seberang lahan kosong, sebelah timur, yang setiap hari dilaluinya ketika ia pergi dan pulang kantor. Rumah Pak Samad hanya tipe 21.
Dengan dorongan rasa ingin beramah tamah dengan para tetangga, Pak Mail bersedia menghadiri undangan Pak Iman. Ia tiba di rumah Pak Iman tepat waktu. Dan ia heran, karena halaman rumah Pak Iman sudah dipenuhi oleh tamu undangan.

Wajah Pak Iman berseri-seri ketika menjabat tangan Pak Mail. "Maaf, Pak. Silahkan duduk. Tempatnya kotor," ujarnya sambil menunjuk selembar tikar yang terpaksa digelar di tepi jalan, karena semua kursi sudah diduduki oleh tamu.

Dengan berat hati, Pak Mail duduk lesehan di atas tikar, sehingga perutnya yang gendut terasa pegal. Pantatnya juga terasa nyeri, karena hamparan aspal di bawah tikar kurang rata.
Sebentar kemudian, Pak Iman duduk di samping Pak Mamat yang ditunjuk untuk menjadi pemimpin doa bersama. Dan sebelum berdoa, Pak Mamat menjelaskan bahwa tuan rumah mengadakan pesta syukuran sederhana itu karena telah mampu membeli becak baru.
Dan setelah berdoa bersama, hidangan yang disajikan ternyata cuma sepiring nasi goreng dan segelas teh manis. Semua hadirin menikmati hidangan pesta syukuran yang sangat sederhana itu.

Pak Mail nampak muak dan ingin muntah, ketika baru saja menelan sesendok nasi goreng yang terasa sangat hambar itu. Tapi, anehnya, wajah semua hadirin nampak berseri-seri menikmati nasi goreng itu. Setelah hampir setengah jam acara tersebut selesai. Pak Mail pun kembali pulang kerumah.
Keesokan harinya, Pak Mail menyadari bahwa tidak semua kehidupan yg mewah dapat disukai oleh banyak orang. Harta yang berlimpah tidak menjamin kita hidup bahagia.













                        Dian Setya Utami
                                                                                                                        XI Tel 5 / 15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar