Cinta Segitiga
Air
mata tiara menetes begitu saja saat mengetahui Fakih, laki-laki yang dikenalnya
beberapa bulan lalu, kini berpacaran dengan Chika. Yang ada difikirannya saat
itu adalah semua kenangan indah yang dilaluinya berdua. “kenapa Chika? Kenapa
bukan aku? Selama ini aku dianggap apa? Maksud sikap manisnya ke aku itu apa?
Baru kemarin dia bilang sayang ke aku, tapi kenapa sekarang malah jadian sama
cewek lain?” pertanyaan itu muncul difikiran Tiara. Tiara dan Fakih memang
bukanlah sepasang kekasih, tetapi Fakih sudah mendekati Tiara sejak pertama
mereka bertemu.
“maafin
aku Tiara, maaf aku udah ngambil Fakih dari kamu” Chika yang mengetahui Tiara
sudah menyukai Fakih sejak lama meminta maaf kepadanya. “kenapa kamu minta maaf
sama aku? Aku bukan siapa-siapanya Fakih kok. Aku seneng kalian bias jadian”
jawab tiara sambil menahan tangis dimatanya. “kamu tau aku suka sama Fakih tapi
kenapa kalian tetap jadian?” Tanya tiara dalam hati.
Marah,
sedih, kecewa, semua menjadi satu. “kenapa kamu deketin aku, terus kamu jadian
sama cewek lain? Kenapa kamu kasih aku harapan, terus kamu buang jauh-jauh
harapan itu? Kenapa kamu selalu bikin aku terbang keawan, lalu sekarang kamu
buang aku gitu aja?” teriaknya didalam hati. “mungkin akunya yang terlalu
berharap sama Fakih. Mungkin akunya yang salah nilai sikap manisnya Fakih
selama ini” tiara mencoba menghibur dirinya sendiri.
Setelah
kejadian itu, Tiara mencoba berhenti mnghubungi Fakih. Beberapa hari kemudian,
Tiara mendapatkan sms dari Fakih. “Tiara, maafin aku” hanya satu kalimat itu
yang dikirim Fakih. “buat apa?” Tiara yang masih sakit hati tidak ingin
membalas panjang lebar. “maaf soalnya aku jadian sama Chika. Aku tau kamu suka
sama aku. Aku tau aku udah nyakitin hati kamu. Kamu boleh kok marah sama aku,
karena ya emang ini salah aku udah bikin hati kamu sakit” jelasnya. Saat itu
air mata Tiara benar-benar tidak bisa dibendung lagi. “aku gak suka sama aku
kih! Aku ga marah sama kamu! Dan jangan minta maaf sama aku lagi!” lagi-lagi
Tiara membohongin dirinya sendiri. “kamu bohong kan? Kamu marah kan sama aku?
Kamu suka kan sama aku?” Tanya Fakih. Tiara tidak membalas pesan terakhir
Fakih. “aku harus bales apa? Aku ga mungkin jujur kalo aku suka sama Fakih. Aku
gabisa bohong terus kaya gini, tapi aku juga gamungkin jujur” kegalauan hati
Tiara benar-benar memuncak.
Hari
demi hari pun berlalu, Tiara menyerah untuk tidak menghubungi Fakih. Walaupun
memang tidak sesering dulu, Tiara tetap menghubungi Fakih untuk mengetahui
kabarnya. “aku kangen Fakih. Aku kangen caranya menghibur aku. Aku kangen saat dia
hapus air mata aku. Aku kangen caranya bikin aku tenang saat aku takut. Aku
kangen caranya ngejaga aku.” tangis Tiara mengingat masa lalunya bersama Fakih.
Bulan
pun berlalu, Tiara tetap menjaga komunikasinya dengan Fakih dan Chika. Suatu
hari Tiara dihubungi oleh Chika. Hari itu Tiara sedang berkumpul dengan
teman-temannya. “halo Tiara, lagi sibuk ga?” sapa Chika. “engga ko, kenapa
Chik? Tumben sms” jawab Tiara. “gapapa ko hehe. Boleh nanya sesuatu ga?” jawab
Chika. “mau nanya apa?” Tiara penasaran dengan maksud Chika yang tiba-tiba
menghubunginya. “emangnya aku mirip sama mantannya Fakih? Fakih pernah cerita
ke kamu ga soal mantannya dia?” akhirnya Chika menjelaskan maksudnya. Tiara pun
memberitau Chika semua hal tentang Fakih yang dia ketahui.
Tiara
menanyakan Chika tentang bagaimana caranya sampai Chika dan Fakih bisa
berpacaran. “awalnya sih kita Cuma bercada aja, eh malah keterusan, hehe.”
Jawab Chika. Tiara benar-benar terkejut dengan jawaban Chika. “hah cuma
bercanda? Jadi sebetulnya Fakih ga bener-bener suka sama Chika dong. Jadi Fakih
ngelakuin itu cuma untuk ngebuat aku cemburu? Wow! Ga nyangka banget!” dulu Fakih
memang beberapa kali membohongi Tiara untuk membuatnya mengkhawatirkan Fakih,
tetapi kali ini benar-benar membuat Tiara sakit hati dibuatnya.
Tahunpun
berlalu, namun Tiara tetap tidak bisa berpindah hati dari Fakih. Beberapa
laki-laki mencoba mendekati Tiara, namun ditolaknya mentah-mentah. “kenapa kamu
gamau sama dia sih ra?” Tanya seorang teman Tiara. “gatau. Aku takut. Tiap ada
laki-laki yang ngedeketin aku, rasanya didepan aku ada cermin yang nunjukin
masa lalu aku sama Fakih” jawab Tiara. “kamu belum bisa move-on dari fakih
sampe sekarang?” Tanya temannya. “aku gabisa move on dari Fakih. Terlalu banyak
kenangan indah darinya. Dia emang udah ngekhianatin aku, tapi aku gabisa benci
dia. Aku udah nyoba buat ngelupain dia, tapi semakin aku mencoba semakin aku
inget sama dia.” Tangis Tiara menyesalinya.
Setelah
satu setengah tahun berlalu, akhirnya Tiara bisa mulai melupakan Fakih. Saat
itu ada seorang laki-laki yang mendekatinya, namun Tiara menolaknya karena
Tiara masih menginginkan Fakih. Namun setelah laki-laki itu pergi, Tiara
menyadari bahwa ia mulai menyukainya. “rasanya aku kaya jalan mundur, gaberani
liat kedepan jadi gatau ada apa didepan. Aku baru bisa ngeliat sesuatu itu
seletah aku ngelewatinnya” kata Tiara menyesali.
Kini
Tiara melewati hari-harinya dengan riang bersama keluarga dan sahabat yang dicintainya.
Tiara memang tidak mau melupakan masa lalunya bersama Fakih, tetapi baginya hal
itu yang membuatnya kuat sampai sekarang. Kini ia tau bagaimana rasanya
dikhianati orang yang sangat disayangnya. Namun sampai sekarang ia masih takut
masa lalunya akan kembali mendatanginya lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar