Be Yourself
Di sebuah kamar yang penuh dengan majalah-majalah dan
komik-komik itu seorang anak sedang menggambar di atas ranjangnya dan
tiba-tiba, “taka, paman dengar kamu menang lomba menggambar lagi ?” kata paman
taka (yashiro aji) berdiri di pintu.”ohh... aku tidak tahu kalau paman datang”
jawab taka tidak beranjak dari ranjangnya. “paman membawa tiket ke festival
komik tahunan, kamu mau ikut datang ?” tanya paman taka menunjukan tiket itu
dengan tersenyum, “whow aku mau datang paman” jawab taka, menerima tiket yang diberikan
pamannya.”kamu hebat taka, paman baru lihat sertifikat ini” kata paman,
menunjuk sebuah serifikat ‘pemenang menggambar tingkat provinsi’ yang dibingkai
rapih di kamar itu.
sembilan tahun berlalu sejak saat itu, taka yang dulu duduk di taman kanak-kanak telah menjajaki masa-masa SMP, dia berjalan santai memasuki gerbang sekolah dengan headset yang menggantung di telinganya. “aku hanya seorang anak laki-laki biasa, yang ingin lulus dan bekerja sepeti banyak orang, aku ingin hidup sederhana seperti layaknya keluarga biasa, aku tidak mau membuat masalah, cukup dengan hidup biasa dan mengikuti aturan aku akan menjadi orang yang berhasil” itulah yang dia tanamkan dalam dirinya di pagi hari itu saat memasuki gerbang sekolah.
“yap
kamu benar lagi takagi” kata sang guru kepada takagi *murid nomor 1 di sekolah itu*,dan pada saat
itu juga taka berkata di dalam hatinya “hidup ini terlalu membosankan”. “ini
akan menjadi bahan untuk ulangan besok, pelajari baik-baik” kata pa guru
menutup kegiatan belajar mengajar hari itu.
keesokan harinya, saat jam pelajaran sedang berlangsung taka menggambar di buku catatannya sosok gadis cantik, yang duduk satu kelas dengannya, “dalam hidup ini cinta adalah kejadian yang mengagumkan, dan mungkin menjadi tujuan mengapa kita hidup” kat taka dalam hati sambil manggambar wajah Mihoo, tanpa terasa kelas hari itu pun berakhir. “tidak terasa ya, kita sudah kelas 9 SMP dan sebentar lagi akan lulus” kata seorang anak di samping taka. “cinta yang tak terbalas ini masih terpendam sejak 3 tahun lalu, dan sekarang aku akan berpisah dengan mihoo” kata Taka dalam hati dengan wajah muram.
Taka
pun pulang langsung pulang kerumahnya dan menghirraukan ajakan teman-temannya
untuk bermain sebentar. “hei Taka kamu sudah pulang, apa kamu mau mie instan
untuk makan siang” kata ibu Taka menawarkan makanan. “ya, tolong bawakan ke
atas ya mah” jawab Taka. Taka pun langsung membaringkan badannya di ranjang
kamarnya yang dianggap surga itu, tak lama ia pun ingin memulai belajar. “sial
buku catatan matematika-ku tertinggal di sekolah” kata Taka kesal, dan langsung
lari ke sekolah.
Setelah
lari tergesah-gesah ia pun membka pintu kelas dan, “hey apa yang kau lakukan di
sini ? bukankah jam pelajaran sekolah sudah berakhir” kata Taka kepada Takagi
yang duduk di bangku paling belakang di kelas itu. “tidak aku hanya sedang
melihat-lihat” jawab takagi memegang buku catatan Taka.dan seketika “hei !, itu
buku catatanku !, untuk apa kau memegangnya ?” kata taka dengan nada kesal.
“tenang aku tidak akan membuka kartu AS* mu” jawab Takagi dengan tenang. “tapi
ada satu syarat” kata Takagi tiba-tiba menghalangi Taka mengambil buku
catatannya. “aku ingin kau membuat manga denganku” kata Takagi dengan nada
licik. “aku selalu ingin menjadi seorang mangaka, aku selalu berfikir untuk
mewujudkannya, tapi aku butuh seseorang untuk menggambarnya. Dan kau lah orang
itu !” kata Takagi memperjelas. “aku tidak mau” jawab Taka dengan tegas dan
jelas. “kenapa ? kau bisa menjadi orang yang kaya dan terkenaldengan membuat
manga” kata Takagi membujuk Taka. “kau tahu hanya 1% dari seluruh orang di
dunia yang dapat menjadi mangaka yang sukses, seperti one piece dan naruto, kau
pikir pelajar SMP seperti kita dapat melakukannya ?” tanya Taka dengan tegas
pada Takagi. “aku tidak tahu detailnya tapi aku yakin, ceritaku dengan gambar
darimu akan bisa membuat kita kaya”kata Takagi. “hmn.... baiklah aku akan
memikirkannya” kata Taka agar dia bisa cepat-cepat kembali ke rumah dan
belajar.
Keesokan
harinya. “taka bangun ! apa yang kau lakukan sampai tertidur di kelas saat
ujian” kat pak guru membangunkan Taka yang bingung memikirkan tujuan hidupnya.
Jam istirahat pun tiba, “hei Taka aku tidak tahu bahwa pamanmu adalah seorang
mangaka yang hebat ? aku sangat mengidolakannya Mashiro Aji” kata Takagi dengan
muka berminar. Taka pun hanya berjalan menghiraukan kata-kata Takagi. “hey
kenapa kau tidak mengatakannya bahwa pamanmu adalah seorang mangaka ?” tanya
Takagi sambil menahan pundak Taka. “pamanku meninggal akibat terlalu banyak bekerja
menjadi seorang mangaka, seluruh keluargaku berduka dan merasa kehilangan
pamanku di usianya yang masih muda, apa kau pikir aku akan diizinkan untuk
menjadi mangaka?” tanya Taka kesal. Hari itu pun berlalu dengan cepat dan pada
saal makan malam “ayah, apa aku boleh menjadi mangaka ?” tanya Taka . “ apa ? kamu sudah kelas 9, dan akan
menga\hadapi ujian kenapa kamu bisa berfikir seperti itu ?” kata ibu Taka
memotong pembincaraan, membuat suasana sedikit memanas. “Taka, temui ayah di
belakang setelah selesai” kata ayah.
Setelah itu pun taka menemui ayahnya dan sang ayah langsung berkata
“Taka, kamu tahu mengapa ibu kesal dengan pertanyaanmu tadi kan. Aji adalah
adik yang baik, dan ia meninggal di usia mudanya. Tapi ayah tidak akan
menghalangimu apapun jalan yang kamu akan pilih”kata ayah kepada Taka dan
tiba-tiba. “taka ikut kakek sebentar”sang kakek memanggil Taka. “ini kunci dari
apartemen tempat Aji bekerja dulu, datanglah kesana, ini dapat membantumu” kata
kakek memberikan kunci apartemen kepada Taka.
Pada
malam itu pun Taka menelepon Takagi dan berkata “Takagi, aku mendapat izin dari
orang tua ku, aku akan menggambar untukmu !”. “bagus, tapi aku punya sesuatu
yang ingin kutunjukan padamu” kata Takagi di telepon. Setelah beberapa lama
mereka berdua bertemu di depan sebuah rumah yang megah. “untuk apa kau
mengajakku kesini ?” tanya Taka. “sudah tenanglah ada kejutan untukmu” kata Takagi. Takagi pun
menekan bell depan rumah dan berkata “hallo mihoo, ini Takagi, aku dengar kau
ingin menjadi seorang dubber profesional?” Taka terkejut mengetahui bahwa itu
adalah rumah mihoo “aku akan membuat manga dengan Taka” kata takagi. Mihoo pun
terkejut dan tak bisa berkata-kata. “hei Taka ini giliranmu untuk bicara” kata
Takagi kepada Taka. “hai mihoo. Aku akan membuat manga dengan Takagi”,”yeah aku
tahu kamu mempunyai bakat untuk itu” jawab mihoo. “mihoo”, “ya ?” . dan
tiba-tiba Taka kehilangan kendali dan berkata “mihoo, apakah kau mau menikah
denganku saat aku menjadi seorang mangaka yang sukses ?” Takagi pun kaget mendengar
kata-kata Taka, begitupun dengan Mihoo dan Taka yang sedang berbicara. Suasana
di telepon itu hening, Takagi dan Taka berdebat mengapa Taka berkata seperti
itu secara tiba-tiba. Dan tiba-tiba Mihoo berkata “baik, aku mau... dengan
syarat saat manga yang kau buat dibuat menjadi anime dan aku akan menjadi
pengisi suaranya, saat itulah kita bisa menikah. Untuk itu aku akan selalu
mendukungmu dari sini” kata Mihoo, membuat Taka kaget dan lepas kendali berkata
“baik aku akan berusaha keras dan aku akan selalu mendukungmu juga, sampai saat
itu datang aku mohon tetap pegang teguh janji ini” kata Taka. Dan dijawab
dengan manis oleh Mihoo dengan kata “yaa...”.
Sejak
saat itu, Taka dan Takagi bekerja keras untuk meraih mimpi mereka. Takagi dan
Taka melanjutkan sekolah di SMA yang tidak terlalu bagus, tetapi saat mereka
duduk di kelas 2 SMA mereka telah memiliki penghasilan sendiri dari perusahaan
komik. 6 Tahun pun berlalu, Taka dan Takagi menjadi mangaka yang sukses dengan
mendapatkan “best comic” dan “best seller manga”.
Dan
Taka pun menikahi Mihoo... menyusul Takagi yang telah menikah lebih dulu ^^

Created by : enrico fauzan w
Awal cerita : menggambarkan hidup Taka
Konflik : konflik mental taka yang bingung memilih jalan hidupnya
Penyelesaian : dia mengikuti bakatnya dan menjadi sukses
Pesan : jangan memaksakan kehendak anda
pada anak anda... tapi bimbinglah dia sesuai sesuai dengan bakat yang
dimilikinya, karaena bakat / kelebihan, adalah jalan spesial untuk setiap orang
agar mendapatkan sukses nantinya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar