SAHABAT….
Satu demi satu, motor yang terparkir di garasi samping rumah aku keluarkan ke teras depan. Memang hari masih pagi, teman-teman yang lain masih tertidur dengan pulasnya. Kecuali Reki yang semenjak shubuh tadi pergi untuk membantu ibu nya menjual sayur. Jam di dinding masih menunjukkan pukul enam kurang lima belas menit. Tak mengherankan memang, tadi malam kita begadangan sampai adzan shubuh terdengar. Kami memang tetanggaan aku dan tiga temanku,Andre,Feri dan Reki ,memang sudah sahabat lama kami berteman semenjak masih kecil. Sering sekali setiap malam minggu mereka pada nginep di rumahku untuk menonton bola.
Sesuai kesepakatan tadi malam, hari ini kami berencana untuk jalan-jalan bersama ke pantai. Meskipun hari minggu, kami kesulitan untuk bisa menghabiskan hari bersama seperti ini. Rencana dadakan jalan-jalan ke pantai hari ini saja, membuat kami harus menunda agenda masing-masing. Hari ini saja, aku sudah berjanji dengan teman-teman sekolah untuk main futsal. Tak apalah, sekali-sekali kita perlu untuk sekedar menyenangkan diri sendiri. Akhirnya pada pukul sepuluh kurang lima menit, kami berangkat menuju pantai Depok. Pantai Depok terletak di sebelah barat Pantai Parangtritis. Di Pantai Depok juga terdapat Tempat Pelelangan Ikan. Sempat kami mengajak Reki ikut serta, tetapi ia enggan untuk ikut. Reki lebih memilih tinggal di rumah. “Biar saya di sini saja”, jawabnya. Dengan tiga motor kami berangkat bersama-sama.
Sekitar pukul setengah dua belas, kami sampai di Pantai Depok. Hari ini sangat cerah. Hari ini pantai ini terlihat sangat penuh. Kami memutuskan untuk duduk-duduk terlebih dahulu di sisi barat pantai. Kurang lebih selama satu jam kami bermain-main layaknya anak kecil. Bodoh amat dengan komentar orang, yang penting hari ini memang kami gunakan untuk bersenang-senang. Setelah kelelahan, kami memilih untuk memesan makanan di salah satu warung. Sembari makan, kami membicarakan tentang apa yang terjadi tentang Reki. Jujur saja, aku sendiri merasa risih dan kurang nyaman dengan sikap Reki akhir-akhir ini. Ternyata apa yang kurasakan tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh teman-teman yang lain. Memang, keluarga Reki termasuk keluarga kurang mampu.
“Beberapa hari yang lalu, sebelum tidur, aku pernah coba tanya pada Reki. Kamu kenapa? Kok kelihatannya murung dan agak pucat?”, ucap Andre. “Dia hanya menjawab. Nggak papa kok. Paling-paling cuma maag-ku lagi kumat. Sudahlah gak usah dipikirin. Ntar paling sembuh-sembuh sendiri. Udah ah, aku ngantuk banget.”, lanjut Andre.
“Aku juga pernah tanya. Tapi yang gitu itu. Dia nggak ngomong apa-apa. Ditanya baik-baik, eh … dia malah melongos. Kalau bukan temen sendiri udah aku damprat.”, tambah Feri.
“Kelihatannya dia punya masalah. Tapi nggak mau ngomong ke kita. Mungkin dia minder atau sudah merasa nggak enak dulu sama kita. Kan semenjak kita tahu kondisi keuangan keluarganya sekarang” .komentar Andre.
“Ya nggak bisa gitu, dong. Temen, ya temen. Kita kan sudah seperti keluarga sendiri. Kalau ada masalah, ya ngomong. Siapa tahu kita bisa bantu. Kayak sama orang lain saja.”, keluh saya.
Pembicaraan kami mengenai Reki pun berlanjut. Sampai akhirnya kami sepakat, malam nanti kami akan menyidangnya beramai-ramai. Terlihat kasar memang, namun apa boleh buat. Hanya itulah alternatif penyelesaian yang tersisa. Tak lupa pula, lima kilogram ikan segar kami bawa sebagai oleh-oleh. Seusai ngobrol sejenak, kami pun kembali ke rumah. Kelihatannya ini adalah waktu yang tepat untuk melaksanakan rencana kami tadi siang. Memang pertama kali Reki terlihat malas sekali, namun karena kami memaksa akhirnya ia mau juga.
“Rek, kita ini berteman walau nggak begitu lama, tapi juga nggak bisa dihitung sebentar. Kita ini sudah seperti keluarga. Masalah satu orang, juga merupakan masalah bagi yang lain. Kita ini saling bantu. Jujur, kami merasa risih dan nggak nyaman dengan sikapmu akhir-akhir ini”. Buka feri .
“Sebenarnya kamu ini kenapa? Ada masalah? Ngomong aja. Siapa tahu kita bisa bantu.”, tambah saya.
Suasana berubah menjadi hening sejenak, Reki hanya bisa terdiam dan tertunduk lesu. Air mata terlihat mulai meleleh di pipinya. Dengan terbata ia menjawab, “Jujur, aku beberapa hari ini instropeksi diri. Aku merasa nggak enak dengan kalian. Selama ini aku sudah banyak sekali di traktir dan sebagainya dengan kalian. Mungkin bagi kalian nggak papa, tapi aku merasa nggak enak. bulan depan kelihatannya aku nggak bisa bayar uang spp sekolah lagi sudah 2 bulan aku nunggak, karena nggak ada jatah dari orang tuaku. Uang jatah spp bulananku akan dipakai untuk biaya adikku yang mau masuk SMP. Aku bingung harus cari uang darimana untuk bayar uang spp bulananku”.
“Rek, kami semua tahu bagaimana kondisi ekonomi keluargamu. Kami sudah maklum dengan itu. Kalau memang kamu belom bisa untuk bayar uang bulanan spp mu bulan depan, ya sudah, nggak papa. Santai aja. Kita-kita nggak keberatan kalau harus menutupi bagianmu. Untuk bulan depan, kamu tetep main bareng lagi lah sama kita-kita. Ucap saya,Andre dan Feri.
“Jujur.. aku merasa makin tidak enak dengan kalian, sudah hampir setiap hari kalian meneraktir saya dan di tambah pula kalian ingin membayar spp bulananku. Itu uang orang tuamu, bukan uangmu.”, elak Reki.
“Rek, uang itu cuman titipan dari Tuhan. Bukan orang tuaku atau aku yang punya. Kamu nggak usah merasa nggak enak begitu. Toh kita kan temenan sudah dari kecil,semenjak bermain denganmu aku juga banyak belajar dari kamu. Bagaimana caranya bisa hidup prihatin dan hidup hemat. Jujur saja, mungkin kalau nggak kenal kamu, mungkin tabunganku nggak akan pernah sebesar seperti sekarang ini. Dulu sewaktu aku SMP, aku boros banget. Sehari aku bisa menghabiskan seratus ribu hanya untuk nongkrong nggak jelas ngapain dengan teman-temanku. Sekarang uang segitu bisa aku buat hidup selama tiga-empat hari. Itu juga karena kamu yang ngajarin aku. Mana yang benar-benar kebutuhan, mana yang hanya sekedar keinginan. Apa yang aku pelajari dari kamu itu, kalau diuangkan nggak bakalan bisa keitung. Toh uang kiriman dari ortuku juga berlebih.”, jawab Andre.
Pembicaraan kamipun mengalir, terlihat Reki sudah mulai semakin tenang. Reki yang ceria sudah mulai terlihat kembali. Bersahabat bukanlah bisnis, yang bisa dihitung secara matematis, apakah kita untung atau rugi.
Persahabatan takkan pernah bisa dihitung dengan uang. Bersahabat adalah hubungan antar manusia yang paling tulus, tanpa pamrih. Dengan sahabatlah kita berbagi suka dan duka, dari sahabatlah kita belajar tentang kehidupan.
Malam itu kami bertiga melaluinya dengan nonton bareng pertandingan sepakbola di rumah saya,antara Arsenal melawan Tottenham Hotspur, the derby of North London. Untuk kali ini saya dengan feri yang bertaruh. Saya seperti biasa menjagokan Arsenal sedangkan Feri merupakan penggemar berat Tottenham. Untuk kali ini, yang kalah bakalan dapat tugas masak untuk sarapan kita besok pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar