Pentingnya Bersekolah
Cuaca terasa panas terik. Sang surya bersinar dengan ganasnya. Membuat ubun-ubun terasa mendidih. Doni mempercepat langkah menuju rumahnya. Dia merasa lega akhirnya sampai juga dia dirumah. Dia duduk melepas lelah sambil membuka sepatunya.
“Huh, lega rasanya,” ia menghela napas dan beranjak masuk ke dalam rumah. Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, ia menemukan uang berserakan di lantai.
‘’Hah, uang apa ini Bu,’’ katanya heran. Tentu saja dia heran. Di zaman serba sulit ini dia melihat uang dibiarkan berserakan di lantai begitu saja. ‘’Untung aku bukan maling yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah,” pikirnya nakal.
“Uang punya Ibu,berikan ke ibu.Bapak mau keluar,’’ sahut bapak. “Hmm,Ibu sudah punya uang sekarang.Jadi, aku bisa minta uang untuk membayar uang les dan LKS,” pikirnya.“Buuu.......Ibuuuu,’’ panggil Doni
‘’Hah, uang apa ini Bu,’’ katanya heran. Tentu saja dia heran. Di zaman serba sulit ini dia melihat uang dibiarkan berserakan di lantai begitu saja. ‘’Untung aku bukan maling yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah,” pikirnya nakal.
“Uang punya Ibu,berikan ke ibu.Bapak mau keluar,’’ sahut bapak. “Hmm,Ibu sudah punya uang sekarang.Jadi, aku bisa minta uang untuk membayar uang les dan LKS,” pikirnya.“Buuu.......Ibuuuu,’’ panggil Doni
‘’Ada apa Don,ganggu orang saja kamu ini,’’ kata Ibunya jengkel. Lalu Doni menyerahkan uang tersebut pada Ibunya. Ia menjelaskan bahwa uang les dan LKS-nya belum dibayar, sedangkan pihak sekolah sudah beberapa kali menagihnya. Tapi bukannya diberi uang, dia malah dimarahi oleh Ibunya.
‘’Ibu heran dengan sekolah kamu itu. Banyak sekali yang harus dibayar. Kan ada dana BOS. Untuk apa dana BOS itu? Sudahlah, tidak usah kamu sekolah,buang-buang uang saja.” Ucap Ibunya
Doni sudah menjelaskan bahwa dana BOS itu tidak mencukupi, karena sekolahnya hanya sekolah swasta dan banyak memakai tenaga honor.,tetapi Ibunya tidak mau tahu dengan semua itu. Dia malah menyuruh Doni untuk mencari uang sendiri. Kemanakah doni akan mencari uang? Ah, Ibu tidak mengerti tentang pendidikan,padahal pendidikan itu sangat penting. Dengan pendidikan kita akan bisa menatap masa depan yang gemilang.
‘’Ibu heran dengan sekolah kamu itu. Banyak sekali yang harus dibayar. Kan ada dana BOS. Untuk apa dana BOS itu? Sudahlah, tidak usah kamu sekolah,buang-buang uang saja.” Ucap Ibunya
Doni sudah menjelaskan bahwa dana BOS itu tidak mencukupi, karena sekolahnya hanya sekolah swasta dan banyak memakai tenaga honor.,tetapi Ibunya tidak mau tahu dengan semua itu. Dia malah menyuruh Doni untuk mencari uang sendiri. Kemanakah doni akan mencari uang? Ah, Ibu tidak mengerti tentang pendidikan,padahal pendidikan itu sangat penting. Dengan pendidikan kita akan bisa menatap masa depan yang gemilang.
“Buat apa kamu sekolah? Lihat itu Don, banyak yang sekolah tinggi, tapi akhirnya cuma jadi pengangguran,kan? Jadi buat apa sekolah?’’ tambah Ibunya lagi.Doni lebih memilih diam dari pada menjawab omongan Ibunya. Ia menyayangkan kenapa Ibunya mempunyai pola pikir yang seperti itu? Sekarang ini orang-orang pada berlomba-lomba mencari ilmu, tapi ibu malah melarangnya untuk bersekolah.
‘’Ibu..... Ibuuuu, mengapa ibu lebih suka mengumpulkan uang, beli emas, dan membanggakan diri pada orang lain dari pada menyekolahkan kami bu. Itu akan lebih bermanfaat bagi kehidupan kita mendatang,’’ gumamnya dalam hati.
Ibunya sudah terpengaruh oleh harta. Ibu bilang,dia iri pada teman-teman arisannya yang kaya dan hidup mewah,sedangkan ibu tidak mempunyai apa-apa. Ibu ingin menabung untuk menggapai semua itu. Dia menyuruh anaknya agar tidak usah sekolah karena hanya menambah beban orangtuanya saja.
Hari-hari berikutnya, Doni tidak lagi berangkat kesekolah. Ia berhenti dan bergaul dengan teman-temannya yang tidak bersekolah. Sebenarnya hati kecilnya selalu sedih tiap kali melihat teman-temannya pergi berangkat sekolah. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa,ibunya sudah tidak mau lagi menyekolahkannya.
Setiap hari Doni ikut teman-teman barunya dan tampaknya Doni sedikit demi sedikit juga mulai terpengaruh oleh teman-teman baru itu. Sedangkan ibunya sudah tidak peduli lagi dengannya,ibunya sibuk mengumpulkan harta, apalagi sekarang ia telah punya menantu yang kaya.
“Sudahlah bu, mudah-mudahan Doni lekas sembuh dan kita bisa kumpul lagi seperti waktu dulu. Akan kita bina keluarga kita. Biarlah kita hidup sederhana,asalkan hati dan keluarga kita bahagia,’’ kata Bapak dengan mata berkaca-kaca, ia berusaha menenangkan hati ibu. ‘’Bapak benar, kini mari kita bina dan songsong keluarga sakinah,’’ kata ibunya dengan mantap.
Setelah beberapa hari Doni sedikit demi sedikit mulai sembuh dari kebiasaannya memakai narkoba atau sabu-sabu,hingga pada akhirnya kondisi tubuhnya kembali normal. Dan pada keesokan harinya kedua orangtuanya memperbolehkan dia untuk bersekolah lagi,dengan perasaan yang bingung doni bertanya kepada orangtuanya.
“Pak,Bu apakah benar doni boleh sekolah lagi?” tanya Doni. ”Iya nak,sekarang kita sadar bahwa betapa pentingnya sekolah” Sahut Bapaknya. “Benar don,kalau anaknya sukses orangtua ikut senang atas kesuksesan anaknya” Tambah Ibunya. “Terimakasih ya bu.....pak...... “ Ucap Doni, “Sama-sama nak” Jawab Orangtuanya.
Pada keesokan harinya doni pun mulai kembali bersekolah dan kembali bertemu,belajar dan bermain bersama teman-temannya lagi.Kini orangtua doni sadar
“betapa pentingnya pendidikan untuk masa depan anak-anaknya dan generasi bangsa”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar