PESAN TERAKHIR
Oleh: Goklas Giovanni S.

Dalam rinai air hujan yang tetesannya
membuat seluruh alam seakan-akan bisu. Aku terlelap di dalamnya, terbuai dengan
mimpi. Sampai tiba-tiba...
"Tidak...." Aku terbangun dengan sangat terkejut. Entah mengapa aku bermimpi buruk, bahkan sangat buruk. Kulihat jam baru pukul 03.00 dini hari. Nafas ku menderu tak beraturan, badan ku terasa sangat letih dan lemah tak bertenaga.
"Tidak...." Aku terbangun dengan sangat terkejut. Entah mengapa aku bermimpi buruk, bahkan sangat buruk. Kulihat jam baru pukul 03.00 dini hari. Nafas ku menderu tak beraturan, badan ku terasa sangat letih dan lemah tak bertenaga.
"Nauzubillahi
min dzalik, aku ga mau itu terjadi, mudah-mudahan ini cuma bunga tidur."
Aku mencoba untuk tidur lagi, tapi mata ku tak bisa dipejamkan lagi. Aku pun mencoba mencari suasana yang nyaman. Walaupun di luar hujan, aku tetap duduk di teras, lalu tiba-tiba dia muncul di tengah hujan dgn basah kuyup. Dia, seseorang yang telah mengisi relung jiwaku beberapa tahun belakangan ini.
"Kenapa malam-malam kayak gini kamu kesini?" tanya ku heran.
"Gapapa kok, aku cuma pengen ketemu kamu, walaupun cuma sebentar." sahut nya.
"kamu gapaapa kan? nanti sakit lho hujan-hujanan kayak gitu."
" Iya aku gapapa."
Tiba-tiba, dia bilang...
"Aku minta maaf ya kalo selama ini aku ada salah, aku sayang banget sama kamu, aku rela berkorban apa saja demi kamu."
"Kamu kok ngomong gitu sih? Kamu ga punya salah ke aku. Aku juga sayang banget sama kamu, kamu akan tetap terus berada di hatiku. "
" Walaupun aku udah ga ada lagi?"
" Iya, tapi aku ga mau itu sampai terjadi, aku mau kamu terus menemani aku."
" Aku jadi lega dengernya, sekarang aku bisa pulang dengan tenang."
" Kamu mau pulang sekarang?"
" Iya, udah terlalu lama aku di sini."
" Ya udah, hati-hati di jalan ya. "
" Iya..."
Bodohnya aku,aku saat itu tak menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi,
Tak lama setelah dia pergi, handphone ku berbunyi, dari dia.
Aku tak kaget karena biasanya pun sehabis kami bertemu, dia langsung nelpon aku sambil di jalan.
"Halo, selamat malam, apa benar ini Lia?" Tanya suara di ujung sana, aku bingung kok itu bukan suaranya Dimas. " Iya, ini siapa ya?" tanya ku.
"Maaf, saya dari temennya Dimas, tasi sore Dimas mengalami kecelakaan dan sudah di larikan ke rumah sakit, setelah menjalani perawatan yang cukup lama Dimas sudah tidak dapat di tolong lagi."
Aku syok mendengarnya, bagaimana bisa? Sedangkan beberapa saat yang lalu dia ada di sini.
Ketika aku sadar, aku udah berada dikamar dan ada orang tua kekasih ku, mereka menjemput ku untuk menjemput jenazah dimas di rumah sakit.
Dengan sisa kekuatan ku aku pun mencoba memberanikan diri untuk melihat kondisinya. Di perjalanan menuju rumah sakit, aku berfikir ternyata kejadian malam itu adalah pertanda, dia minta izin untuk pulang selama-lamanya.
Air mataku mengalir terus menerus, aku tak tau kenapa Tuhan selalu memberikan cobaan berat di hidup ku. Akhirnya aku sampai di rumah sakit, aku melihat tubuhnya terbaring kaku, tidak ada yang berubah darinya, tak ada lecet-lecet ataupun luka di tubuhnya, hamya memar di bagian dada karena dokter bilang beberapa tulang di rusuknya patah dan menekan jantungnya, itulah yang menyebabkan kematiannya.
Aku mencoba untuk tidur lagi, tapi mata ku tak bisa dipejamkan lagi. Aku pun mencoba mencari suasana yang nyaman. Walaupun di luar hujan, aku tetap duduk di teras, lalu tiba-tiba dia muncul di tengah hujan dgn basah kuyup. Dia, seseorang yang telah mengisi relung jiwaku beberapa tahun belakangan ini.
"Kenapa malam-malam kayak gini kamu kesini?" tanya ku heran.
"Gapapa kok, aku cuma pengen ketemu kamu, walaupun cuma sebentar." sahut nya.
"kamu gapaapa kan? nanti sakit lho hujan-hujanan kayak gitu."
" Iya aku gapapa."
Tiba-tiba, dia bilang...
"Aku minta maaf ya kalo selama ini aku ada salah, aku sayang banget sama kamu, aku rela berkorban apa saja demi kamu."
"Kamu kok ngomong gitu sih? Kamu ga punya salah ke aku. Aku juga sayang banget sama kamu, kamu akan tetap terus berada di hatiku. "
" Walaupun aku udah ga ada lagi?"
" Iya, tapi aku ga mau itu sampai terjadi, aku mau kamu terus menemani aku."
" Aku jadi lega dengernya, sekarang aku bisa pulang dengan tenang."
" Kamu mau pulang sekarang?"
" Iya, udah terlalu lama aku di sini."
" Ya udah, hati-hati di jalan ya. "
" Iya..."
Bodohnya aku,aku saat itu tak menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi,
Tak lama setelah dia pergi, handphone ku berbunyi, dari dia.
Aku tak kaget karena biasanya pun sehabis kami bertemu, dia langsung nelpon aku sambil di jalan.
"Halo, selamat malam, apa benar ini Lia?" Tanya suara di ujung sana, aku bingung kok itu bukan suaranya Dimas. " Iya, ini siapa ya?" tanya ku.
"Maaf, saya dari temennya Dimas, tasi sore Dimas mengalami kecelakaan dan sudah di larikan ke rumah sakit, setelah menjalani perawatan yang cukup lama Dimas sudah tidak dapat di tolong lagi."
Aku syok mendengarnya, bagaimana bisa? Sedangkan beberapa saat yang lalu dia ada di sini.
Ketika aku sadar, aku udah berada dikamar dan ada orang tua kekasih ku, mereka menjemput ku untuk menjemput jenazah dimas di rumah sakit.
Dengan sisa kekuatan ku aku pun mencoba memberanikan diri untuk melihat kondisinya. Di perjalanan menuju rumah sakit, aku berfikir ternyata kejadian malam itu adalah pertanda, dia minta izin untuk pulang selama-lamanya.
Air mataku mengalir terus menerus, aku tak tau kenapa Tuhan selalu memberikan cobaan berat di hidup ku. Akhirnya aku sampai di rumah sakit, aku melihat tubuhnya terbaring kaku, tidak ada yang berubah darinya, tak ada lecet-lecet ataupun luka di tubuhnya, hamya memar di bagian dada karena dokter bilang beberapa tulang di rusuknya patah dan menekan jantungnya, itulah yang menyebabkan kematiannya.
Kami membawa
jenazahnya pulang, tak ada yang bicara, semuanya berduka. Hari itu sangat
mendung, seolah-olah langit pun berduka. Aku teringat saat-saat indah saat aku
bersamanya, saat yang takkan pernah terhapus dari ingatan ku dan takkan pernah
terganti selamanya. Semua orang telah meninggalkan pemakaman, tersisa aku dan
kenangan ku. Sampai saat ini aku masih tak percaya dengan kenyataan ini, baru
kemarin dia di samping ku, tapi sekarang dia telah terbaring tenang disini. Aku
tak tahan lagi membendung kesedihan ku.
" Kau akan tetap tinggal di hati ku, selamanya. Aku janji..."
Sejak saat itulah setiap minggu aku datang ke pemakaman untuk ziarah ke makam Dimas dan itu berlangsung sampai saat ini, itu juga sebabnya kenapa sampai sekarang aku masih sendiri. Tak pernah ada niat sedikit pun di hatiku untuk mencari pengganti Dimas. Dimas adalah cinta pertama dan cinta terakhir ku."
" Kau akan tetap tinggal di hati ku, selamanya. Aku janji..."
Sejak saat itulah setiap minggu aku datang ke pemakaman untuk ziarah ke makam Dimas dan itu berlangsung sampai saat ini, itu juga sebabnya kenapa sampai sekarang aku masih sendiri. Tak pernah ada niat sedikit pun di hatiku untuk mencari pengganti Dimas. Dimas adalah cinta pertama dan cinta terakhir ku."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar